Ringkasan Berita:
- Satu di antara tujuh remaja global mengalami masalah kesehatan mental
- Sebagian besar dari mereka belum menerima perawatan
- Peran sekolah sebagai tempat yang nyaman dan mendukung bagi siswa Kehadiran sekolah sebagai lingkungan yang aman dan penuh dukungan Fungsi sekolah sebagai ruang yang menjamin keamanan dan pendukung perkembangan siswa Arti penting sekolah sebagai tempat yang kondusif dan mendorong pertumbuhan siswa Sekolah sebagai lokasi yang memberikan rasa aman dan dukungan bagi peserta didik
, JAKARTA –Kalimat “aku lelah tapi tidak tahu mengapa aku lelah” semakin sering terdengar dari mulut para remaja saat ini.
Tidak hanya kelelahan fisik, tetapi juga kelelahan emosional. Dunia yang serba cepat, media sosial yang menginginkan kesempurnaan, serta tekanan akademik yang besar menyebabkan banyak remaja berkembang dalam lingkungan penuh tekanan.
Hal ini ternyata juga menjadi perhatian serius dari berbagai lembaga internasional.
Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh UNESCO, UNICEF, UNYO, dan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada hari Kamis (7/11/2025), disampaikan bahwa satu dari tujuh remaja di seluruh dunia mengalami masalah kesehatan mental, dengan sebagian besar tidak menerima tindakan apapun.
“Secara global, sekitar 14,3 persen anak berusia 10–19 tahun mengalami masalah kesehatan jiwa, tetapi sebagian besar belum mendapatkan diagnosis dan penanganan,” demikian pernyataan yang dirilis dari situs resmi WHO, Minggu (9/11/2025).
Banyak pemuda tampak bahagia di media sosial, aktif dalam kegiatan sekolah, dan memiliki banyak teman, namun secara diam-diam merasa cemas, takut gagal, atau kehilangan tujuan.
Banyak penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan kasus kecemasan dan depresi pada usia 10 hingga 24 tahun.
Terutama karena tekanan dari lingkungan akademis, perubahan dalam iklim sosial, serta penggunaan media digital yang berlebihan.
PBB menganggap, hal ini bukan hanya masalah pribadi, melainkan krisis global yang memerlukan tindakan lintas sektor.
Dimulai dari sekolah, fasilitas kesehatan, hingga sistem digital.
“Di butuhkan tindakan lintas sektor yang terkoordinasi, yang tidak mengabaikan siapa pun, termasuk anak dan remaja yang berada dalam kondisi rentan,” demikian lanjut pernyataan tersebut.
Sekolah Perlu Menjadi Tempat Aman, Bukan Sumber Stres*
Dalam laporan mereka, UNESCO menekankan kepentingan sekolah sebagai lingkungan yang aman dan mendukung.
Bukan hanya tempat untuk mencari nilai, tetapi juga merupakan lingkungan yang mendukung perkembangan emosional anak secara sehat.
Rekomendasi UNESCO pada tahun 2023 juga menekankan pendidikan yang berorientasi pada perdamaian dan kesejahteraan mental, sehingga siswa dapat belajar mengenali diri sendiri dan orang lain.
Bayangkan jika sekolah menjadi tempat di mana siswa dapat berbicara dengan bebas tanpa merasa takut dihakimi.
Guru yang memperhatikan tanda-tanda stres, serta lingkungan belajar yang menumbuhkan empati, bukan hanya fokus pada prestasi.
Pemuda Diminta Menjadi Mitra, Bukan Hanya Sebagai Objek
Salah satu aspek menarik dari pernyataan ini adalah dorongan untuk melibatkan anak dan remaja secara langsung dalam penyusunan kebijakan.
Sebelumnya, keputusan mengenai kesehatan mental sering diambil tanpa memperhatikan pendapat mereka.
“Anak dan remaja perlu ditempatkan sebagai mitra yang sejajar, bukan hanya sebagai pihak yang menerima manfaat,” demikian tulis laporan bersama tersebut.
Maknanya, remaja bukan hanya menjadi pihak yang terdampak dari kebijakan, tetapi juga penentu masa depan kesejahteraan mental mereka sendiri.
Kesadaran global ini juga berfungsi sebagai pengingat bagi para orang tua, guru, dan masyarakat.
Mempertahankan kesehatan mental anak muda dapat dimulai dari hal-hal kecil.
Mendengarkan tanpa mengambil keputusan, memberikan waktu untuk beristirahat dari tekanan, serta menjadikan percakapan tentang perasaan sebagai hal yang wajar.
(/ Aisyah Nursyamsi)









