Forum Kota | Kupang — Kasus penganiayaan yang menimpa seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Sumba Timur berinisial DLN di Kuala Lumpur, Malaysia, mendapat perhatian serius dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Sandiang Kaya Ndapa Namung, pemuda dan mahasiswa asal Sumba Timur yang saat ini berdomisili di Kupang.24/11/2025
Dalam pernyataannya, Sandiang menyampaikan keprihatinan mendalam atas tindakan kekerasan yang dialami DLN oleh majikannya. Ia menilai kasus ini bukan hanya bentuk pelanggaran kemanusiaan, tetapi juga cermin lemahnya perlindungan terhadap para pekerja migran, khususnya yang berasal dari Nusa Tenggara Timur.
“Kami sangat prihatin dan mengecam keras tindakan penganiayaan yang dialami saudari DLN. Ini bukan hanya persoalan satu individu, tetapi persoalan martabat warga negara, terutama saudara-saudara kita yang bekerja untuk menghidupi keluarga di kampung halaman,” tegas Sandiang.
Ia juga mendorong pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk mengambil langkah cepat dan tegas dalam menangani kasus tersebut. Menurutnya, koordinasi dengan pihak Konsulat Jenderal RI di Malaysia harus dipercepat agar korban mendapatkan keadilan serta perlindungan hukum yang layak.
“Kami meminta Pemerintah Kabupaten Sumba Timur, Pemerintah Provinsi NTT, hingga pemerintah pusat untuk tidak tinggal diam. Negara harus hadir. PMI bukanlah pahlawan devisa jika keselamatan mereka tidak dijamin,” tambahnya.
Selain itu, Sandiang menilai bahwa kasus yang menimpa DLN harus menjadi momentum untuk memperkuat sistem penempatan tenaga kerja, termasuk pengawasan dan edukasi sebelum keberangkatan. Ia berharap agar tidak ada lagi warga Sumba Timur yang menjadi korban kekerasan di luar negeri.
“Kami berharap ada pembenahan nyata. Jangan ada lagi yang berangkat tanpa perlindungan, tanpa pendampingan, dan akhirnya menjadi korban,” ujarnya.
“Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat Sumba Timur, organisasi pemuda, dan mahasiswa untuk bersama-sama mengawal perkembangan kasus ini hingga tuntas” tutup Sandiang.









