Jabar., BOGOR – Aktivitas vulkanikGunung Merapiyang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah masih tergolong cukup tinggi dengan status ditetapkan pada tingkat level 3 atau SIAGA.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan suplai magma masih terus berlangsung, yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso mengatakan berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental selama seminggu terakhir, aktivitas erupsi efusi di Gunung Merapi masih terus terjadi.
“Data pemantauan kami menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Oleh karena itu, kami merekomendasikan agar masyarakat tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah potensi bahaya,” kata Agus Budi Santoso dalam keterangannya, Sabtu (27/9).
Aktivitas Visual dan Seismik Meningkat Berdasarkan laporan BPPTKG, dalam seminggu terakhir teramati 88 kali aliran lava ke arah sektor barat daya, meliputi hulu Kali Bebeng, Kali Krasak, dan Kali Sat/Putih, dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter atau 2 kilometer.
Selain aliran lava, aktivitas gempa juga menunjukkan peningkatan dibandingkan minggu sebelumnya.
Tercatat ada 81 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 644 kali gempa Fase Banyak (MP), dan 520 kali gempa Guguran (RF).
“Intensitas gempa pada minggu ini tercatat lebih tinggi, yang menandakan adanya peningkatan aktivitas di dalam tubuh gunung,” kata Agus.
Analisis Kubah Lava dan Potensi Bahaya
Meskipun data deformasi atau perubahan bentuk tubuh gunung tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, analisis morfologi menunjukkan adanya sedikit perubahan pada kubah lava di sektor barat daya akibat aktivitas guguran.
Volume kubah barat daya tercatat sebesar 4.179.900 meter kubik, sedangkan kubah tengah sebesar 2.368.800 meter kubik.
“Volume kubah lava di sektor barat daya terus meningkat, meskipun data deformasi belum signifikan,” kata Agus.
Pada periode pengamatan 29 September 2025 pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, aktivitas Gunung Merapi terpantau dalam kondisi cukup stabil.
Cuaca di sekitar gunung cerah dengan angin yang bertiup tenang ke arah barat, suhu udara mencapai 16,3 °C dengan kelembaban tinggi 95,5 persen dan tekanan udara 873,5 mmHg.
Secara visual, gunung terlihat jelas tanpa adanya asap dari kawah, menunjukkan tidak ada aktivitas letusan yang signifikan.
Namun, dari sisi gempa, tercatat adanya peningkatan aktivitas aliran lava sebanyak 30 kali dengan amplitudo antara 2 hingga 40 mm, serta durasi kejadian berkisar antara 47 hingga 222 detik.
Selain itu, terjadi 25 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 2 hingga 21 mm dan durasi antara 13 hingga 37 detik, tanpa jeda waktu antara gelombang S dan P.
Guguran lava teramati sebanyak 12 kali mengarah ke barat daya, tepatnya menuju Hulu Kali Krasak, Bebeng, dan Sat/Putih, dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.
Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan hingga barat daya yang meliputi Sungai Boyong (maksimal 5 km), serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km).
Di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro (maksimal 3 km) dan Sungai Gendol (5 km).
“Kami menyarankan pemerintah kabupaten di sekitar Merapi terus melakukan upaya mitigasi. Masyarakat juga harus selalu waspada terhadap bahaya lahar, terutama saat hujan terjadi di sekitar puncak Merapi,” tutup Agus.(mar3/jpnn)









