Pertanian Kota di Jagakarsa: Kolaborasi dan Edukasi

Forum Kota99 Views

Abdul Latif membuktikan pertanian kota bukan sekadar panen, tapi juga merawat tanah, membangun kolektif, dan berbagi ilmu. Dari hidroponik hingga organik, semuanya demi masa depan yang berkelanjutan.

Sejak 2020, Abdul Latif (36) bertani di Jagakarsa,Jakarta SelatanAwalnya, ia mencari pendapatan tambahan setelah bisnis pakaiannya terdampak oleh pandemi COVID-19. Ia memilih hidroponik, metode menanam berbasis air yang mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan hasil panen dibandingkan cara konvensional.

Akhirnya, Latif menyadari bahwa metode hidroponik hanya fokus pada produksi, tanpa memperhatikan kesuburan tanah. Refleksi ini muncul saat ia mengajar kelas berkebun untuk anak-anak PAUD. Kepada murid-muridnya, ia sering berkata bahwa bertani adalah bentuk kasih sayang terhadap Bumi.

“Menjaga Bumi, praktiknya mungkin seperti menanam berbagai macam tanaman, tapi jika kita fokus pada tanamannya (seperti pertanian hidroponik), tanah kita terabaikan,” katanya. Namun, ia merasa belum benar-benar berkontribusi untuk tujuan tersebut.

Dengan lahan 17 x 5 meter, Latif beralih ke metode organik demi komitmen menyuburkan tanah. Pilihan ini sejalan dengan temuan IPB University (2025) bahwa 82% tanah di Indonesia berproduktivitas rendah.

Latif percaya bahwa menjaga tanah tetap subur merupakan upaya membantu alam dalam mengembalikan keseimbangannya. “Sebenarnya alam itu bisa berjalan tanpa manusia, cuma manusia ini yang mengubah semua yang sudah berjalan. Ketika sesuatu terjadi pada alam, itu karena kita. Jadi, lakukanlah sesuatu yang sekecil mungkin untuk mengembalikannya,” katanya.

Tantangan di kebun sempit

Sebagai petani urban organik, Latif menghadapi tantangan khas: lahan terbatas dan proses produksi yang lebih lambat sehinggahasil panenlebih sedikit dibandingkan hidroponik.

Untuk mengatasinya, ia memutar jenis tanaman agar panen dapat dilakukan secara bergantian. Ada yang siap dipetik dalam hitungan minggu, ada juga yang baru bisa dipanen setelah beberapa bulan. Kini, ia menanam kangkung (23-25 hari), sawi (40-70 hari), jagung (60-65 hari), dan timun (35 hari). Cara ini membuat lahan kecilnya tetap produktif dan biaya operasional bisa terus berputar.

Latif juga menghemat biaya dengan meninggalkan nutrisi pabrikan. Menurutnya, kembali ke alam memang membutuhkan waktu yang lebih lama, tapi justru membuat biaya produksi menjadi lebih ringan tanpa mengurangi kualitas.

Kolektif pangan yang memperkuat

Di tengah keterbatasan, hadir kolektif pangan Selarasa yang juga berbasis di Jagakarsa. Melalui inisiatif Majelis Sayur, Selarasa membuka ruang bagi petani lokal untuk berbagi keresahan dan pengetahuan.

“Harapannya adalah bahwateman-teman petaniItu memiliki ruang untuk menyampaikan kekhawatirannya kepada sesama petani. Secara ruang, secara cuaca, secara iklim, pasti menghadapi tantangan yang serupa, tapi tidak sama,” kata Juli, salah satu inisiator Selarasa.

Hubungan antara Selarasa dan Latif pun berkembang, tidak lagi sekadar memberi dan menerima bantuan, melainkan menjadi proses saling belajar. Juli mengakui, pihaknya justru banyak mendapat wawasan baru dari para petani. “Jadi yang awalnya berpikir Selarasa tahu banyak mengenai konteks pangan, malah jadi kita yang belajar sama teman-teman petani di Jagakarsa,” katanya.

Editor: Hani Anggraini

ind:content_author: Felicia Salvina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *