– Persoalan video bullying di SMA Negeri 1 Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, semakin memuncak. Pada Rabu 19 November 2025, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Losarang, Ade Sumantri, mengambil tindakan yang mengejutkan dengan menjuluki enam siswa yang diduga terlibat dalam tindakan pengeroyokan sebagai “Duta Anak Terbaik” sekolah.
Sebelumnya, warga desa Puntang RT 09 kecamatan Losarang kabupaten Indramayu yang merupakan siswa kelas 10 SMA Negeri 1 Losarang menjadi korban bullying yang videonya sempat viral di media sosial.
Ade Sumantri menceritakan alur kejadian dalam video yang viral berdurasi 47 detik tersebut.
“Sebenarnya anak itu sedang bercanda dengan temannya. Karena terlalu berlebihan dalam bercanda, ada yang merasa sakit hati, jadi hari ini kita mengadakan pertemuan. Yang namanya anak-anak, artinya masih dalam masa pembinaan,” katanya dengan nada bijak.
Ia menekankan bahwa sekolah tidak akan menghukum siswa-siswa tersebut secara sepihak. “Artinya kita juga tidak menghukum anak berdasarkan perbuatan mereka. Perilaku remaja seperti itu wajib kita bina.”
Apalagi melihat anak yang tidak memiliki orang tua, ibunya berada di luar negeri, sedangkan ayahnya telah bercerai, sehingga berada di luar pengawasan,” tambah Ade, merujuk pada korban yang berasal dari keluarga dengan latar belakang rumah tangga yang rusak.
Sekolah, menurut Ade, memiliki tanggung jawab etis untuk menjadi pengganti orang tua bagi para siswa tersebut.
“Kami dari pihak sekolah wajib melindungi mereka, harus membimbing mereka agar menjadi lebih baik. Ini bukan tentang hukuman, melainkan perubahan hati,” tegasnya.
Sebagai bagian dari program pengembangan, keenam duta baru ini akan diberikan tugas khusus, seperti memimpin kegiatan pencegahan perundungan, menyosialisasikan nilai-nilai toleransi, serta menjadi contoh yang baik bagi adik kelas dalam semester berikutnya.
“Kita menjadi duta anak terbaik di sekolah ini sesuai dengan doktrin mereka. Semoga hal ini bisa berhasil dan mampu memberikan warna dalam dunia pendidikan,” ujar Ade Sumantri, yang telah menjabat sebagai kepala sekolah sejak beberapa tahun terakhir di SMA Negeri 1 Losarang.
Di sisi lain, Komarudin, ayah kandung korban, menceritakan urutan kejadian yang menimpa putranya terjadi di salah satu ruangan kosong di lingkungan sekolah pada hari Rabu, 19 November 2025 siang.
Awalnya hanya saling ejek-ejek biasa antar siswa sekolah, tiba-tiba anak saya ditabrak dari belakang, dibawa ke ruangan kosong, tangan dan kakinya diikat, lehernya diberi sandal,” kata Komarudin dengan nada marah saat diwawancarai di rumahnya, Kamis 20 November 2025.
Menurut Komarudin, tersangka diduga berjumlah lebih dari lima orang dan seluruhnya merupakan kakak kelas korban. “Saya tidak mengenal satu pun pelakunya, kata anak saya mereka adalah kakak kelas,” tambahnya.
Saat kejadian, FDS mengalami beberapa luka kecil di tangan dan kakinya karena ikatan tali yang terlalu ketat. “Setelah pulang ke rumah, tubuhnya sakit semua, tangan dan kaki tergores, saya tanya ‘kenapa nak?’, baru dia menceritakan,” kata Komarudin.
Sebagai seorang ayah, Komarudin mengakui sangat marah terhadap kejadian itu. “Sebagai orang tua, pasti merasa kesal ketika anak sendiri diperlakukan demikian. Tapi ya bagaimana lagi, sudah terjadi,” katanya sambil menghela napas panjang.
Ia berharap pihak sekolah dan aparat hukum segera menangani kasus ini agar tidak terulang kembali. “Saya meminta pelaku dihukum sesuai aturan yang berlaku, agar menjadi pelajaran bagi yang lain,” tegasnya.
Kasus perundungan yang disertai kekerasan fisik dan terekam dalam video ini kembali memicu kekhawatiran masyarakat Indramayu terhadap maraknya tindakan kekerasan di lingkungan sekolah, meskipun sekolah tersebut dianggap sebagai salah satu SMA favorit di kawasan Pantura Barat Jawa Barat.
