Direktorat Jenderal Hortikultura Memperkuat Petani Cabai Magelang, Mas Dar Menjadi Inspirasi Pemberdayaan

Berita126 Views

– Fluktuasi harga cabai, rantai distribusi yang panjang, serta dominasi tengkulak selama ini menjadi masalah klasik di sektor pertanian hortikultura. Namun di Magelang, Jawa Tengah, muncul sebuah gerakan baru yang terbukti mampu memutus mata rantai ketergantungan dan mengembalikan keuntungan ke tangan petani.

Kunci keberhasilan itu tidak lepas dari sinergi Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian RI bersama petani teladan, Sudarno yang akrab disapa Mas Dar yang dikenal luas sebagai Champion Cabai Magelang.

Dengan dukungan pendampingan dan program dari Ditjen Hortikultura, Mas Dar mampu menghimpun lebih dari 6.000 petani cabai di 12 kecamatan dalam wadah Koperasi Pancarga Tani Gemilang Magelang. Koperasi ini bukan sekadar tempat berhimpun, melainkan motor penggerak ekonomi petani cabai dari hulu hingga hilir.

“Inovasi yang kami dorong adalah sistem pasar lelang cabai. Dengan cara ini, petani mendapatkan harga yang lebih baik, bahkan bisa menambah Rp1.000 – Rp2.000 per kilogram. Jika setahun koperasi mengumpulkan 1.000 ton cabai, maka Rp1 miliar kembali ke petani, bukan ke tengkulak,” jelas Mas Dar.

Menurutnya, peran Direktorat Jenderal Hortikultura sangat penting dalam mendampingi dan mengawasi gerakan petani cabai. Program-program yang dijalankan pemerintah tidak hanya menargetkan peningkatan produksi, tetapi juga memastikan kesejahteraan petani tetap terjaga.

“Kami sebagai petani Champion Cabai selalu bekerja sama dengan Kementerian Pertanian, khususnya Ditjen Hortikultura. Bersama-sama, kami mendorong agribisnis cabai yang tangguh dan berkelanjutan,” katanya.

Hasilnya kini nyata, yaitu petani lebih sejahtera, pelaku usaha merasa gembira, dan masyarakat menikmati cabai dengan harga yang lebih terjangkau. Ditjen Hortikultura menjadi jembatan penting antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan riil petani di lapangan.

Pak Dar terus-menerus menanamkan moto hidupnya kepada para petani binaannya: “Petani bekerja cerdas dengan tulus.” Bagi dia, bertani bukan hanya sekadar kerja keras, tetapi juga pekerjaan yang terencana, penuh strategi, dan dilakukan dengan hati yang tulus.

Kisah sukses ini menegaskan bahwa dengan pendampingan yang tepat dari pemerintah dan komitmen penggerak lokal seperti Mas Dar, sektor hortikultura mampu menjadi pilar ekonomi kerakyatan yang tangguh.***