Kabel Laut dan Kecerdasan Buatan, Cara Ciena Memperkuat Ekonomi Digital Indonesia

Berita105 Views

Gelombang besar pembangunan kabel bawah laut tengah melanda dunia. Dorongan utamanya datang dari kebutuhan bandwidth yang meningkat pesat, terutama didorong oleh hyperscaler global, penyedia layanan wholesale, serta konsorsium internasional. Brian Lavallée (Senior Director of Market & Competitive Intelligence di Ciena) mengatakan fenomena tersebut juga terasa di Indonesia, negara kepulauan yang semakin menyadari pentingnya kabel bawah laut untuk mendukung konektivitas digital.

“Di Indonesia, operator sangat fokus memperluas kapasitas secara berkelanjutan, sambil beradaptasi dengan perubahan pasar dan tantangan geopolitik,” kata Lavallée dalam wawancara eksklusif bersama .

Evolusi Desain Kabel: Dari Batas Shannon ke Wet Plant Modern

Dalam satu dekade terakhir, pengembangan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) hanya fokus pada peningkatan kapasitas kabel yang sudah ada tanpa mengganti infrastruktur fisik. Namun, kini fokus mulai bergeser.

“Seiring teknologi mendekati Shannon Limit, inovasi lebih banyak diarahkan pada desain wet plant,” jelas Lavallée.

Desain modern Wet Plant Modern tidak hanya meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan, tetapi juga mengoptimalkan konsumsi daya agar sesuai dengan kebutuhan aplikasi baru seperti AI dan cloud computing.

Kabel Laut, Tulang Punggung AI Global

Lonjakan berikutnya datang dari dunia kecerdasan buatan (AI). Lavallée mengatakan AI akan menjadi penggerak utama permintaan bandwidth global. Saat ini, sebagian besar lalu lintas data AI masih berada di dalam pusat data.

Namun, seiring berkembangnya pelatihan Large Language Model (LLM) dan inferensi di sisi jaringan (network edge), data akan meluber hingga ke jaringan kabel bawah laut.

“Pelatihan LLM sangat bergantung pada kapasitas dan latensi. Dengan kapasitas yang lebih besar dan latensi yang lebih rendah, data dapat berpindah antar kluster AI lebih cepat, sehingga pelatihan dapat berlangsung lebih efisien dan hemat biaya,” kata Lavallée.

Ia mencontohkan aplikasi inferensi yang membutuhkan kinerja tinggi, seperti sistem pengenalan wajah untuk keamanan atau robotika berbasis computer vision di pabrik. Semua itu akan sangat bergantung pada kinerja jaringan kabel bawah laut.

Asia Pasifik Menjadi Pusat Pertumbuhan Baru

Menurut riset TeleGeography, Asia adalah kawasan dengan pertumbuhan lalu lintas internasional tercepat kedua di dunia. Jakarta dan Kuala Lumpur kini muncul sebagai pusat lalu lintas utama.

“Tidak ada teknologi alternatif yang bisa menyaingi kabel bawah laut, bahkan satelit Low Earth Orbit (LEO) sekalipun,” tegas Lavallée.

Namun, ia memperingatkan bahwa kawasan Asia-Pasifik menghadapi tantangan besar yaitu aktivitas laut yang tinggi, risiko jangkar kapal dan penangkapan ikan, serta ancaman bencana alam di kawasan Ring of Fire. Oleh karena itu, Ciena menawarkan solusi berbasis analitik, otomatisasi, dan inovasi teknologi untuk memastikan keberlanjutan, keandalan, dan keragaman rute.

Jakarta, Pusat Konektivitas Baru Dunia

TeleGeography mencatat Jakarta masuk dalam 10 kota paling terhubung di dunia dengan pertumbuhan infrastruktur internet tercepat. Berbagai proyek pendaratan kabel bawah laut, pembangunan pusat data, hingga kawasan cloud baru menempatkan ibu kota Indonesia sebagai hub konektivitas internasional yang menjanjikan.

Lavallée menegaskan, “Pendekatan holistik Indonesia dalam membangun infrastruktur menjadikan Jakarta sebagai pusat konektivitas dengan potensi luar biasa di masa depan.”

Mitos Gigitan Ikan Paus dan Fakta di Baliknya

Salah satu isu populer mengenai kabel bawah laut adalah ancaman gigitan hiu. Lavallée menjelaskan, “Faktanya, serangan hewan laut hanya menyumbang kurang dari 0,1 persen kerusakan kabel, dan masalah tersebut hampir hilang sejak 2006 berkat desain kabel modern.”

Sebaliknya, sebanyak 70–80 persen kerusakan kabel justru disebabkan oleh aktivitas manusia, terutama penangkapan ikan komersial dan jangkar kapal. Sisanya berasal dari faktor alam seperti badai, longsoran bawah laut, atau arus kuat.

Kabel vs Satelit: Saling Melengkapi

Meskipun kabel bawah laut adalah “jalan tol” internet global, satelit LEO tetap memiliki peran penting. “Satelit sangat berguna di daerah terpencil dan pulau-pulau kecil yang tidak terhubung kabel,” kata Lavallée.

“Namun, untuk koneksi global berkecepatan tinggi, kabel bawah laut tetap menjadi tulang punggung,” katanya.

Peran Ciena, Dari WaveLogic hingga GeoMesh Extreme

Ciena bukanlah pemain baru di industri ini. Lebih dari satu dekade yang lalu, perusahaan ini merevolusi jaringan bawah laut dengan GeoMesh Extreme dan teknologi transmisi optik koheren WaveLogic.

“Dengan WaveLogic 6 Extreme, kami mampu menyediakan transmisi 1 Tb/s pada jarak 12.000 km, sebuah terobosan dunia. Lebih jauh lagi, Ciena juga berhasil menekan konsumsi daya hingga 90 persen, menjadikan jaringan bawah laut lebih berkelanjutan,” katanya.

Indonesia Menjadi Pasar Strategis Ciena

Bagi Ciena, Indonesia adalah pasar kunci di Asia Pasifik. Saat ini, Ciena sudah bekerja sama dengan operator lokal seperti HSPnet dan Biznet, termasuk menerapkan platform WaveLogic 6500 berbasis AI pada dua sistem kabel bawah laut.

“Indonesia adalah salah satu pasar internet dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Kami optimis dengan prospek jangka panjang di sini,” kata Lavallée.

Dengan meningkatnya permintaan bandwidth dari AI, awan, dan ekonomi digital, kabel bawah laut akan tetap menjadi urat nadi internet global. Indonesia, dengan posisi strategisnya, berada di jalur yang tepat untuk menjadi pusat konektivitas internasional.

“Pada akhirnya, masa depan konektivitas ditentukan oleh kolaborasi lintas industri: yaitu operator, penyedia teknologi, penyedia layanan cloud, pembuat kebijakan, hingga akademisi. Hanya dengan cara itu kita bisa membangun jaringan global yang dapat ditingkatkan, berkelanjutan, dan aman,” tutup Lavallée.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *